KETELADANAN SA’ID

Umar bin Khaththab ra, mengangkat Sa’id bin Amir bin Judzaim al-Jumahi ra sebagai pemimpin untuk wilayah Syam, Syiria. Sa’id pun berangkat bersama dengan budak wanita Quraisy yang berwajah elok. Pada awalnya lancar-lancar saja, sampai Sa’id tertimpa kesulitan hidup yang amat sangat.

Saat Umar ra mendengar berita tersebut, beliau mengirimkan kepada Sa’id uang sebesar seribu dinar. Dituturkan: Sa’id mendatangi istrinya dan berkata: “Umar telah mengirimkan kepada kita sejumlah uang, seperti yang engkau lihat sendiri.”

Melihat sejumlah uang tersebut, istrinya berkata: “Lebih baik engkau belanjakan untuk kami bahan makanan dan engkau simpan”. Sa’id berkata pada istrinya, “Maukah aku tunjukkan yang lebih baik dari hal itu? Kita akan berikan uang ini kepada seseorang yang akan memutar uang ini. Kita akan makan dari hasil keuntungannya dan akan mendapatkan jaminan dari hal itu.”

Mendengar usul yang sangat menarik ini, si istri langsung menimpali, “Kalau begitu baiklah”. Uang itu oleh Sa’id dibelikan kulit, bahan makanan, dua ekor unta dan dua orang budak. Semua itu lalu diberikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada mulanya semua berlangsung lancar, sampai pada suatu hari istrinya berkata: “Bahan makanan sudah habis, lebih baik engkau datangi orang yang memutar uang kita, dan ambil keuntungannya untuk engkau belanjakan bahan makanan untuk kami.”

Mendengar keluhan istrinya ini Sa’id hanya terdiam. Istrinya kembali mengulang ucapannya tadi, namun Sa’id tidak bereaksi, apapun dan kemudian keluar dari rumah. Ia kembali ke rumah di waktu malam. Salah seorang anggota keluarga Sa’id berkata kepada istri Sa’id: “Apa yang telah engkau lakukan? Sesungguhnya engkau telah dicukupi kebutuhannya, lagi pula harta yang diberikan Umar itu sudah di sedekahkan.” Mendengar penuturan ini istri Sa’id menangis.

Pada suatu hari Sa’id kembali ke rumah menjumpai istrinya dan berkata: “Tenanglah, sesungguhnya harta yang telah diberi Umar adalah untukku, dan aku telah bagi-bagikan tidak lama setelah itu, karena aku lebih menyukai mereka (fakir, miskin dan orang-orang yang membutuhkan) dari pada diriku. Aku sudah mendapatkan dunia dan seisinya. Seandainya salah satu kebaikan (maksudnya seorang bidadari) dari berbagai kebaikan yang ada itu turun dari langit ke dunia, maka sinarnya akan meliputi seluruh penduduk bumi dan akan mengalahkan sinar matahari dan rembulan, selendangnya jauh lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Akan tetapi engkau, bagiku jauh lebih utama dari pada mereka (maksudnya bidadari-bidadari tersebut). Mendengar ucapan Sa’id di atas, akhirnya sang istri setuju dan rela dengan apa yang dilakukan Sa’id.

Keteladanan Sa’id bukan hanya dalam kisah di atas saja, Abdurrahman bin Sabith al-Jumahi menuturkan, “Apabila Sa’id mendapatkan bagian harta dari Baitul Mal, maka ia belanjakan bahan makanan untuk keluarganya, dan sisanya disedekahkan. Sampai-sampai istrinya bertanya, kemana uang lebihnya yang telah diberikan kepadamu?” Sa’id menjawab, “Telah aku pinjamkan.”

Orang-orang pernah mendatangi Sa’id dan menegurnya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak, begitu pula kerabatmu, mereka semua mempunyai hak”. Atas teguran ini Sa’id menjawab, “Aku tidak pernah menuntut dan mencari kerelaan seseorang di dunia, melainkan untuk mendapatkan bidadari yang tidak pernah tersentuh mata manusia, yang jika ia turun ke bumi, maka sinarnya akan membakar bumi dan matahari. Namun aku juga tidak mau meninggalkan kewajiban terhadap keluargaku….”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.