Archive for the kisah keteladanan Rasulullah dan Sahabat r.a Category

KETELADANAN SA’ID

Posted in kisah keteladanan Rasulullah dan Sahabat r.a on Januari 24, 2010 by anzhar89

Umar bin Khaththab ra, mengangkat Sa’id bin Amir bin Judzaim al-Jumahi ra sebagai pemimpin untuk wilayah Syam, Syiria. Sa’id pun berangkat bersama dengan budak wanita Quraisy yang berwajah elok. Pada awalnya lancar-lancar saja, sampai Sa’id tertimpa kesulitan hidup yang amat sangat.

Saat Umar ra mendengar berita tersebut, beliau mengirimkan kepada Sa’id uang sebesar seribu dinar. Dituturkan: Sa’id mendatangi istrinya dan berkata: “Umar telah mengirimkan kepada kita sejumlah uang, seperti yang engkau lihat sendiri.”

Melihat sejumlah uang tersebut, istrinya berkata: “Lebih baik engkau belanjakan untuk kami bahan makanan dan engkau simpan”. Sa’id berkata pada istrinya, “Maukah aku tunjukkan yang lebih baik dari hal itu? Kita akan berikan uang ini kepada seseorang yang akan memutar uang ini. Kita akan makan dari hasil keuntungannya dan akan mendapatkan jaminan dari hal itu.”

Mendengar usul yang sangat menarik ini, si istri langsung menimpali, “Kalau begitu baiklah”. Uang itu oleh Sa’id dibelikan kulit, bahan makanan, dua ekor unta dan dua orang budak. Semua itu lalu diberikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada mulanya semua berlangsung lancar, sampai pada suatu hari istrinya berkata: “Bahan makanan sudah habis, lebih baik engkau datangi orang yang memutar uang kita, dan ambil keuntungannya untuk engkau belanjakan bahan makanan untuk kami.”

Mendengar keluhan istrinya ini Sa’id hanya terdiam. Istrinya kembali mengulang ucapannya tadi, namun Sa’id tidak bereaksi, apapun dan kemudian keluar dari rumah. Ia kembali ke rumah di waktu malam. Salah seorang anggota keluarga Sa’id berkata kepada istri Sa’id: “Apa yang telah engkau lakukan? Sesungguhnya engkau telah dicukupi kebutuhannya, lagi pula harta yang diberikan Umar itu sudah di sedekahkan.” Mendengar penuturan ini istri Sa’id menangis.

Pada suatu hari Sa’id kembali ke rumah menjumpai istrinya dan berkata: “Tenanglah, sesungguhnya harta yang telah diberi Umar adalah untukku, dan aku telah bagi-bagikan tidak lama setelah itu, karena aku lebih menyukai mereka (fakir, miskin dan orang-orang yang membutuhkan) dari pada diriku. Aku sudah mendapatkan dunia dan seisinya. Seandainya salah satu kebaikan (maksudnya seorang bidadari) dari berbagai kebaikan yang ada itu turun dari langit ke dunia, maka sinarnya akan meliputi seluruh penduduk bumi dan akan mengalahkan sinar matahari dan rembulan, selendangnya jauh lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Akan tetapi engkau, bagiku jauh lebih utama dari pada mereka (maksudnya bidadari-bidadari tersebut). Mendengar ucapan Sa’id di atas, akhirnya sang istri setuju dan rela dengan apa yang dilakukan Sa’id.

Keteladanan Sa’id bukan hanya dalam kisah di atas saja, Abdurrahman bin Sabith al-Jumahi menuturkan, “Apabila Sa’id mendapatkan bagian harta dari Baitul Mal, maka ia belanjakan bahan makanan untuk keluarganya, dan sisanya disedekahkan. Sampai-sampai istrinya bertanya, kemana uang lebihnya yang telah diberikan kepadamu?” Sa’id menjawab, “Telah aku pinjamkan.”

Orang-orang pernah mendatangi Sa’id dan menegurnya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak, begitu pula kerabatmu, mereka semua mempunyai hak”. Atas teguran ini Sa’id menjawab, “Aku tidak pernah menuntut dan mencari kerelaan seseorang di dunia, melainkan untuk mendapatkan bidadari yang tidak pernah tersentuh mata manusia, yang jika ia turun ke bumi, maka sinarnya akan membakar bumi dan matahari. Namun aku juga tidak mau meninggalkan kewajiban terhadap keluargaku….”

KESABARAN RASULULLAH

Posted in kisah keteladanan Rasulullah dan Sahabat r.a on Januari 24, 2010 by anzhar89

Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang zhalim dan jahat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang telah Allah curahkan berupa perintah dan larangan. Kita tidak perlu takut adanya kezhaliman, perampasan, pengambilan dan pelanggaran hak di rumah beliau.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah.” (HR. Ahmad).

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan: “Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. ternyata tarikan tadi begitu keras sehingga ujung kain yang tebal itu membekas di leher beliau. Si Arab badui itu berkata: “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!” Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baru kembali dari peperangan Hunain, beberapa orang Arab badui mengikuti beliau, mereka meminta bagian kepada beliau. Mereka terus meminta sampai-sampai beliau terdesak ke sebuah pohon, sehingga jatuhlah selendang beliau, ketika itu beliau berada di atas tunggangan. Beliau lantas berkata: “Kembalikanlah selendang itu kepadaku, Apakah kamu khawatir aku akan berlaku bakhil Demi Allah, seadainya aku memiliki unta-unta yang merah sebanyak pohon ‘Udhah ini, niscaya akan aku bagikan kepadamu, kemudian kalian pasti tidak akan mendapatiku sebagai seorang yang bakhil, penakut lagi pendusta.” (HR. Al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Merupakan bentuk tarbiyah dan ta’lim yang paling jitu dan indah adalah berlaku lemah lembut dalam segala perkara, dalam mengenal maslahat dan menolak mafsadat.

Kecemburuan yang dimiliki para sahabat telah mendorong mereka untuk menyanggah setiap melihat orang yang keliru dan tergelincir dalam kesalahan. Mereka memang berhak melakukan hal itu! Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lembut dan penyantun melarang mereka melakukan seperti itu, karena orang itu (pelaku kesalahan itu) jahil atau karena mudharat yang timbul dibalik itu lebih besar. Tentu saja, perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih utama untuk diteladani.

Abu Hurairah menceritakan: “Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan: “Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran.” (HR. Al-Bukhari).

Kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di atas manhaj (metode) beliau di dalam berdakwah semata-mata karena Allah tanpa membela kepentingan pribadi.

‘Aisyahradhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?” Beliau menjawab: “Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa’alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril ada di sana. Lalu ia menyeruku: “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!” Beliau menjawab: “Tidak, justru aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” (Muttafaq ‘alaih).

Pada hari ini, sering kita lihat sebagian orang yang bersikap terburu-buru dalam berdakwah. Berharap dapat segera memetik hasil. Hanya membela kepentingan pribadi yang justru hal itu merusak dakwah dan mengotori keikhlasan. Oleh sebab itu, berapa banyak kelompok-kelompok dakwah yang gagal karena individu-individunya tidak memiliki kesabaran dan ketabahan!

Setelah bersabar dan berjuang selama bertahun-tahun, barulah terwujud apa yang dicita-citakan Rasulullah.

Dalam sebuah syair disebutkan:

Bagaimanakah mungkin dapat diimbangi seorang insan terbaik yang hadir di muka bumi.
Semua orang yang terpandang tidak akan mampu mencapai ketinggian derajat-nya.
Semua orang yang mulia tunduk di hadapannya.
Para penguasa Timur dan Barat rendah di sisi-nya.

Abdullah bin Mas’ud mengungkapkan: “Sampai sekarang masih terlintas dalam ingatanku saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan seorang Nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah pada wajahnya seraya berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku! karena mereka kaum yang jahil.” (Muttafaq ‘alaih).

Pada suatu hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su’nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: “Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!” dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: “Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapanku! Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!”

Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperhatikan reaksi Umar dengan tenang. Beliau berkata: “Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha’ kurma.”

Melihat Umar menambah dua puluh sha’ kurma, Zaid si Yahudi itu bertanya: “Ya Umar, tambahan apakah ini?
Umar menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!”
Si Yahudi itu berkata: “Ya Umar, apakah engkau mengenalku?”
“Tidak, lalu siapakah Anda?” Umar balas bertanya.
“Aku adalah Zaid bin Su’nah.” jawabnya.
“Apakah Zaid si pendeta itu?” tanya Umar lagi.
“Benar!” sahutnya.
Umar lantas berkata: “Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Zaid menjawab: “Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, yaitu: apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hatinya. Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahwa aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad.”
Umar berkata: “Ataukah untuk sebagian umat Muhammad saja sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh umat Muhammad.”
Zaid berkata: “Ya, untuk sebagian umat Muhammad.
Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyatakan kalimat syahadat “Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu”. Ia beriman dan membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan menshahihkannya).

Cobalah perhatikan dialog yang panjang tersebut, sebuah pendirian dan kesudahan yang mengesankan. Semoga kita dapat meneladani junjungan kita nabi besar Muhammad. Meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi beraneka ragam manusia. Dan dalam mendakwahi mereka dengan lemah lembut dan santun. Memberikan motivasi bila mereka berlaku baik, serta menumbuhkan rasa optimisme di dalam diri mereka.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan: “Suatu kali aku pergi melaksanakan umrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kota Madinah. Ketika tiba di kota Makkah, aku berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, engkau mengqasar shalat namun aku menyempurnakannya, engkau tidak berpuasa justru aku yang berpuasa.” Beliau menjawab: “Bagus, wahai ‘Aisyah!” Beliau sama sekali tidak mencela diriku.” (HR. An-Nasaai).

kisah ini disadur dari alsofwah.or.id

KETELADANAN RASULULLAH TENTANG PERSAHABATAN

Posted in kisah keteladanan Rasulullah dan Sahabat r.a on Januari 24, 2010 by anzhar89

‘Aisyahradhiyallahu ‘anha menuturkan: “Setiap kali disampaikan kepada beliau sesuatu yang kurang berkenan dari seeorang, beliau tidak mengatakan: “Apa maunya si ‘Fulan’ berkata demikian!” Namun beliau mengatakan: “Apa maunya ‘mereka’ berkata demikian!” (HR. At-Tirmidzi).

Anas bin Malik menceritakan: “Pernah suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za’faran). Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata: “Alangkah bagusnya bila kalian perintahkan lelaki itu untuk menghilangkan bekas za’faran itu dari bajunya.” (HR. Abu Daud & Ahmad).

Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Inginkah aku kabarkan kepadamu oang yang diselamatkan dari api Neraka, atau dijauhkan api Neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah lembut dan murah hati.” (HR. At-Tirmidzi)

faedah

Hikmah yang dapat kita ambil adalah bagaimana kita saling berkasih sayang denagn saudara-saudara kita sesema muslim, menjalin persahabatan yang harmonis guna memnciptakan kekokohan umat dan keharmonisan umat islam kedepannya.

KISAH PERJUANGAN BILAL R.A

Posted in kisah keteladanan Rasulullah dan Sahabat r.a on Januari 6, 2010 by anzhar89

Bilal Al-habsyi adalah sahabat yang masyhur. Ia adalah muadzin tetap masjid Nabawi. Pada mulanya, ia adalah budak milik seorang kafir. Kemudian ia memeluk Islam yang menyebabkan ia banyak menerima berbagai siksaan. Umayyah bi Khalaf adalah orang kafir yang paling keras memusuhi Islam. Ia telah membaringkan Bilal di atas padang pasir yang sangat panas di terik matahari, sambil meletakkan batu besar di dadanya, sehingga Bilal sulit bergerak sedikitpun. Lalu di katakan kepadanya, ”Apakah kamu bersedia mati seperti ini atau tetap hodup dengan syarat kamu tinggalkan Islam?” Namun, ia tetap mengucapkan  “Ahad….Ahad…..”, bahwa yang harus di sembah adalah Allah SWT. Pada malam hari ia di rantai dan dicambuk terus-menerus sehingga badannya penuh luka. Dan siang harinya dengan luka tersebut ia dijemur kembali di tengah oadang pasir yagn panas. Sehingga lukanya semakin parah. Tuannya berharap ia akan meniggalkan Islam atau mati perlahan-lahan dengan cara itu. Orang-orang yang menyiksa Bilal silih berganti, kadang-kadang Abu Jahal atau Umayya bin Khalaf, bahkan orang lain pun ikut menyiksanya. Mereka berusa menyiksanya lebih berat lagi. Ketika Abu Bakar ra melihat hal itu, beliau menebusnya dan langsung memerdekakannya.

Faedah

Begitu besarnya cinta Bilal ra pada Allah SWT yang rela disiksa demi mempertahankan ke-Islamannya. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa Islam adalah agama yang hak dan agama yang membawa rahmat bagi kita sesungguh telah di katakan dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu kecuali dalam keadaan Islam.” Sehinnga dari itu janganlah kita sekali-kali murtad dari Islam.

KETELADANAN RASULULLAH SAW

Posted in kisah keteladanan Rasulullah dan Sahabat r.a on Januari 5, 2010 by anzhar89

Rasulullah Muhammad adalah sosok hamba Allah yang keteladanannya sangat luar biasa….. Beliau adalah seorang manusia yang memang dalam Al-Qur’an dikatakan, “Dan telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik”.

kisah yang akan saya sampaikan ini adalah kisah tentang seorang pengemis buta yang sering di suapi oleh Rasulullah. Orang buta ini adalah salah seorang Quraisy yang membeci Rasulullah. pengemis buta ini selalu mengatakanbahwa Rasulullah adalah orang gila, penyihir dan apabila mendekatinya maka akan dipengaruhinya. Setiap Rasululah datang membawakan makanan dan menyuapinya tanpa berkata sepatah katapun, walaupun setiap datang, orang iu selalu berpesan untuk tidak mendekati orng yang namanya Muhammad.

Hal ini dilakukan Rasullah sampai menjelang Beliau wafat. Setelah beliau wafat maka tidak ada lagi orang yang membawakan makanan pada pengemis buta itu. Suatu hari, Abu Bakar ra. berkunjung ke anaknya Aisyah rha. dan bertanya, “Wahai anakku, adakah sunnah dari asulullah yang belum aku kerjakan.”

Aisyah rha. menjawab, “Wahai ayahku, engkau adalah ahli sunnah, hampi tidak ada sunnah yang kau tidak kerjakan, kecuali satu.”  “Apakah itu?”, tanya Abu Bakar.

“Setiap pagi asullah selalu pergi ke ujung pasar dan memberikan makan pada seorang pengemis buta.” kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar ra. pergi ke pasar itu dan mendatangi pengemisitu untuk memberikannya makan. Saat Abu Bakar hendak enyuapinya, pengemisitu berteriak ,” siapa kamu?”

Abu Bakar mnjawab, ” Akulah oran yang selalu memberikanmu makan.”

Lalu pengemis itu berkata, ” Orang yang selalu memberikanku makan selalu menyuapiku, tapi sebelum iu makanan ia haluskan dengan mulutnya dan memberikannya dengan mulutnya. Apabila ia datang padaku, tanagn ini tidak susah untuk menggenggam dan mulut ini tidak susah mengunyah.”

Mendengar hal itu Abu Bakar menangis dan berkata, “Aku memang bukan orang yang selalu menyuapimu, Beliau adalah Muhammad SAW.”

Mendengar hal itu pengemis itu kaget dan menangis. pengemis itu berkata,”Benarkah demikian? Setiap Beliau datang padaku, aku selalu menghina,menghujat dan memfitnahnya, tapi Beliau tidak pernah memarahiku dan dengan sabar menyuapiku, Beliau sungguh mulia.”

Faedah

Hal yang penting yang perlu kita ambil dari kisah di Atas adalah kesabaran dan kasih sayang terhadap sesama. Bahwa kita hidup di dunia ini harus dengan kasih sayang dang saling menghargai. Menolong setiap hamba Allah yang sedang dalam kesusahan. Kita senantisa mencermikan Bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang, bukan predikat terorisyang seharusnya melekat pada Islam se[erti sekarang ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.